[Riddle Story]
“Mas, tolong mas, ada yang mau bunuh diri!" Sahut orang2 menghancurkan lamunanku saat berjalan menuju tempatku bekerja.
Enak saja, tak akan kubiarkan ada yang mati dari gedung tempatku bekerja!.
Di sini tempat mencari penghidupan, bukan
kematian, batinku kesal.
Insting heroikku pun muncul. Aku bergegas naik lift hingga lantai teratas, lantai 26. Lalu aku segera mencari tangga darurat menuju ke atap gedung. Akan tetapi pintu menuju tangga darurat dikunci, satu-satunya akses adalah dari lantai sepuluh yang biasanya terbuka. Akupun kembali meluncur ke
lantai sepuluh. Dan benar saja pintu darurat
terbuka, tapi artinya aku harus melalui enam
belas tingkat anak tangga lagi untuk mencapai puncak.
Dengan sekujur kaki terasa remuk dan tubuh yang bersimbah peluh, aku akhirnya sampai di atap gedung. Ia melihat seorang wanita berambut panjang berdiri rapat di punggung pagar. Tatapannya kosong menatapku dan sedikit pucat.
“Mbak, saya mohon. Mungkin kita bisa
ngobrol-ngobrol dulu. Jangan bertindak gegabah mbak” pintaku. Namun tatapannya masih kosong.
Seketika telepon genggamku berdering.
“Sudah terlambat, orangnya udah jatuh. Tapi niatmu udah mulia, sudah relakan saja.” kata orang diseberang telepon.
Tanganku pun berguncang hebat, merinding dengan mata membelalak pada sosok perempuan yang masih dilihatnya di atap gedung.
“Brengsek! Berarti ini hantunya!”
Ujarku segera menutup telepon. Lalu perlahan aku berbalik dan mengendap kembali ke dalam bilik tangga darurat. Keringat dingin bercampur keringat panas di tubuhku mengingat wajah wanita tadi. Lantas, di tengah langkahku menuruni tangga, telepon genggamku kembali berdering. Aku jawab panggilan itu, dan aku hanya bisa diam mematung.