13. AFTER RETURNING HOME
Ketika aku tiba di rumah sepulang sekolah, tidak ada
seorangpun di sana. Ayah dan ibuku masih belum pulang.
Seperti biasa, setelah mengunci pintu, akupun pergi ke
kamarku. Aku kemudian menutup pintu dan berganti baju di
dalam kamar. Saat hendak membuka pintu, aku terkejut.
Pintu kamarku tak mau membuka.
Seolah-olah ada yang memeganginya dari luar.
Aku tak mengunci kamarku, jadi seharusnya pintu itu
terbuka dengan mudah. Mungkin saja pintuku rusak, namun
pikiran bahwa “ada seseorang menahan pintuku dari luar”
membuatku takut.
Untunglah kamarku terletak di lantai satu dan sambil
membawa telepon genggam, akupun keluar dari jendela.
Saat aku berada di luar, beruntung aku bertemu ibuku yang
baru saja tiba di depan rumah.
“Ibu ... pintu kamarku ...mungkin ada orang...” aku berkata
dengan terbata-bata karena masih ketakutan.
Namun ibuku justru tertawa. Ia tak mempercayaiku.
Kamipun masuk dan ibu mencoba membuka pintu
kamarku. Ternyata pintu itu terbuka dengan sangat mudah.
“Lihat, bisa kan? Jangan berpikir yang aneh-aneh. Rumah
ini sudah tua, jadi wajar kalo pintu ini sudah rusak.”
Akupun masuk dan ibuku meninggalkan rumah sambil
tertawa. Dengan perasaan malu, aku membuka kunci
jendela dan menatap ke luar. Angin berhembus di wajahku
dan aku mulai tertawa. Ah, mana mungkin ada orang
mesum masuk ke kamarku? Hari masih siang bolong
begini.
Jawaban: Dia udah ngunci pintu depan, tp ibunya bisa
buka. dan dia juga udah buka jendela kamarnya, tp pas dia
masuk lagi dia buka "jendela yang terkunci" berarti kan
ada yang ngunci jendelanya dari dalam?