[Riddle Story]
Aku masih tidak menyangka ayahku telah tiada, ayah yg selama ini selalu menemaniku telah tiada selama-lamanya. Hari hari ku hampa tanpanya, karena aku hanya dapat berinteraksi dengan baik dengan ayahku saja, terlebih kami memiliki hobi yg sama yaitu berburu. Aku hanya bisa mengenangnya lewat foto foto ayah. Penyebab meninggalnya ayahku masih belum diketahui, polisi masih terus mengungkap kasus pembunuhan ayahku.
Beberapa jam setelah pemakaman, adik perempuanku yg bernama kayla pulang dari asrama, adik kembar perempuanku yg bernama ana dan ani menyambutnya dengan gembira. Ya mereka bertiga memang akrab sekali berbeda dengan reaksiku terhadap Kayla, aku hanya tersenyum dingin menyambutnya. Ibu dan bibi Ratna juga sangat menyambut baik kedatangan Kayla. Ya memang Kayla anak yg sangat disukai di keluargaku.
Tak terasa malampun tiba, bibi Ratna memasakan hidangan yg lumayan banyak untuk makan malam kami. Aku hanya terdiam memainkan garpu dan pisau, aku sama sekali tidak nafsu dengan hidangan yg dibuatkan bibi Ratna. Ibu menegurku, aku hanya menatap tajam wajahnya. sedangkan Ana, Ani dan Kayla sangat asyik berdiskusi tentang LadaLand yg baru saja dibuka dikota. Ana dan Ani terlihat sangat excited untuk pergi kesana. Aku makin tidak betah dengan keadaan rumah, seakan akan mereka tidak peduli akan kepergian ayah. Emosiku yg semakin menjadi menggerakanku untuk memecahkan piring, lalu aku memarahi adik adiku dengan kata kata yg kasar. Ibu terlihat shock lalu ia menamparku dan berkata "anak kurang ajar! Ibu tidak pernah melihatmu membahagiakan adik adikmu, hargailah keinginannya! sikapmu yg kasar sangat tidak pantas!", suasana menjadi hening ana dan ani menangis ketakutan. Tanpa berbicara, aku langsung naik ke atas untuk menenangkan diri dikamar.
Waktu menunjukan tepat jam 12 malam aku masih menangisi kepergian ayahku, aku tidak peduli dengan keluargaku aku hanya peduli pada ayah, hanya itu yg kupikirkan. Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dikamarku, aku tak menghiraukannya. Lama lama ketukan itu menggangguku dan akhirnya aku membukakan pintu kamarku. Ternyata Kayla yg datang, ia membawakanku segelas susu dan berkata "tidurlah! Kau butuh istirahat" aku menatapnya dengan tajam. Tak ku sangka, mata Kayla sangat mirip dengan mata ayahku. Ya, sangat mirip sekali, aku sangat terpaku menatapnya. Akhirnya Kayla bergegas pergi untuk tidur.
Dua hari setelah kepergian ayah, ibu memutuskan untuk pindah kerumah paman. Ibu mengatakan kalau rumah ini sudah terlalu tua untuk ditempati. Aku sangat tidak setuju dengan keputusan ibu, karena rumah ini merupakan satu-satunya warisan ayahku. Namun aku tidak dapat menolaknya walaupun berat.
Keesokan harinya kami mempersiapkan barang-barang bawaan kami, tak lupa aku mebawa semua barang-barang kenangan bersama ayahku yg telah ku letakan didalam sebuah dus. akhirnya kami sampai dirumah paman, paman menyambut kedatangan kami dengan hangat. Ibu terlihat sangat akrab dengan paman, ya pamanku adalah mantan kekasih ibuku.
Namun jodoh berkata lain. Kamipun segera membereskan barang-barang bawaan kami, tapi sayangnya barang-barang kenangan bersama ayah yg telah ku letakan dikardus hilang. Aku menanyakan kepada seluruh keluarga dimana dus itu berada, tetapi mereka tidak ada yg mengetahuinya. Aku berlari menuju mobil yg mengangkut barangg-barang pindahan kami, tapi sayang mobil itu sudah melaju kencang. Ya, perfectlah kehilanganku. Setiap hari aku selalu menghubungi pihak jasa pindahan kemarin, tetapi jawaban mereka sama, mereka tidak menemukan dus itu. Inilah yg aku benci dari pindahan. Aku tak dapat mengenang ayah lagi, aku hanya dapat mengenang lewat memori indahku bersamanya. Tapi aku rela melakukan apa saja untuk dapat melihat semua kenangan yg berhubungan dengan ayah.
Seminggu kemudian setelah kepergian ayah suasana rumah paman terlihat sangat kacau. Tiba-tiba ibu datang dan berkata "cobaan macam apa ini, seminggu lalu ayahmu mati terasayat parang, tadi pagi ana dan ani ditemukan tewas mengenaskan didepan LadaLand, anak kesayanganku Kayla menjadi buta dan bisu! Dan sekarang kau begitu santai berbaring dikasurku tanpa merasa sedih! Apa yg dapat dibanggakan darimu!" Setelah puas mengatakan itu ibuku keluar dari kamarnya dan terlihat olehku dia sedang berpelukan dengan paman.
Aku tak menghiraukannya, aku hanya ingin bersantai dikasur ibuku yg bau amis dan lengket ini dan mendengarkan musik sepanjang hari.